Kasus Pelanggaran Ham Dan Gambarnya

Kasus Pelanggaran Ham Dan Gambarnya – Contoh Pelanggaran HAM di Indonesia – Pelanggaran HAM adalah pelanggaran atau pembiaran HAM yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain. Namun, tidak semua pelanggaran hak adalah pelanggaran hak asasi manusia. Pelanggaran HAM meliputi pembunuhan dan penganiayaan, serta penjelasan pelanggaran HAM dan contoh pelanggaran HAM di Indonesia (yang pernah terjadi di masa lalu).

“Pelanggaran hak asasi manusia adalah setiap perbuatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, termasuk pejabat publik, baik disengaja maupun tidak disengaja, yang dapat mengurangi, membatasi, menghilangkan, atau meniadakan hak asasi manusia orang lain yang dilindungi undang-undang dan tidak menerima atau mengkhawatirkan bahwa mereka tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang layak dan adil sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku”

Kasus Pelanggaran Ham Dan Gambarnya

Pelanggaran HAM banyak terjadi pada masa pemerintahan Presiden Suharto, ketika ABRI (sekarang TNI dan Polri) menjadi alat kontrol pemerintah. Pelanggaran HAM TNI memuncak pada akhir Orde Baru, ketika perlawanan rakyat semakin intensif.

Foto: Aksi Menolak Lupa Kasus Pelanggaran Ham Di Cfd

Pembantaian Ravagede merupakan pelanggaran HAM ketika tentara Belanda menembak penduduk kampung Ravagede (sekarang kampung Balongsari, Ravamerta, Karawang, Jawa Barat) pada tanggal 9 Desember 1945, bersamaan dengan agresi militer Belanda I. Akibatnya, puluhan warga sipil dibunuh tentara Belanda yang sebagian besar dibunuh tanpa sebab yang jelas. Pada 14 September 2011, Pengadilan Den Haak memutuskan pemerintah Belanda bersalah dan harus dimintai pertanggungjawaban dengan membayar ganti rugi kepada keluarga korban pembantaian yang dirusak.

Munir Said Thalib adalah seorang aktivis HAM yang menangani kasus-kasus pelanggaran HAM. Munir lahir di Malang pada 8 Desember 1965. Ia meninggal dunia pada 7 September 2004 dalam penerbangan Garuda Indonesia saat Munir terbang ke Amsterdam, Belanda. Spekulasi mulai bermunculan: banyak laporan yang mengatakan bahwa Munir meninggal di pesawat karena serangan jantung, dibunuh bahkan diracun. Namun, sebagian orang meyakini Munir meninggal akibat keracunan arsenik dari makanan atau minuman di pesawat.

Masih belum ada tempat pertemuan, bahkan kasus ini sudah dirujuk ke Amnesty International dan sedang diproses. Kemudian pada tahun 2005, Polycarp Budihari Priyanto, pilot pesawat yang ditumpangi Munir, dijatuhi hukuman 14 tahun penjara karena terbukti sebagai tersangka pembunuhan Munir karena Polycarp sengaja memasukkan arsenik ke dalam makanan Munir untuk membuatnya mati. dengan pesawat.

Kasus Marsina terjadi pada 3-4 Mei 1993. Seorang pekerja dan seorang perempuan di PT Catur Putera Surya Porong, Jawa Timur. Acara ini diawali dengan aksi mogok kerja oleh Marsinah dan pekerja PT CPS. Mereka menenangkan perusahaan yang memecat mereka tanpa alasan. 5 hari setelah demonstrasi, Marcino ditemukan tewas. Ia meninggal di Hutan Wilangan, Nganjuk, dalam kondisi memprihatinkan dan diduga sebagai korban pelanggaran HAM berupa penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan. Investigasi belum menemukan titik terang.

Kasus Pelanggaran Ham Yang Pernah Terjadi Di Indonesia

Kasus penculikan dan penghilangan paksa aktivis demokrasi diketahui, sekitar 23 aktivis demokrasi diculik. Sebagian besar aktivis yang diculik disiksa dan dihilangkan, meski satu tewas. 9 aktivis dibebaskan, 13 aktivis lainnya masih belum diketahui. Banyak orang percaya bahwa mereka diculik dan disiksa oleh militer.

Peristiwa Tanjung Priok terjadi pada tahun 1984 antara aparat keamanan dan warga setempat, yang diawali dengan isu SARA dan unsur politik. Peristiwa tersebut dipicu oleh warga sekitar yang memprotes aparat dan aparat yang ingin memindahkan makam suci Mbah Priok. Warga yang menolak dan marah melakukan aksi unjuk rasa yang berujung bentrok antara warga dengan polisi dan TNI. Insiden itu diyakini terkait dengan pelanggaran hak asasi manusia yang menyebabkan ratusan korban tewas akibat kekerasan dan penembakan.

Antara tahun 1982 dan 1985 peristiwa ini mulai berlangsung. “Petrus” – sebuah insiden yang melibatkan penculikan, pemukulan dan penembakan preman, seringkali melanggar ketertiban umum. Belum diketahui siapa pelakunya, namun kemungkinan pelakunya adalah oknum polisi yang menyamar (tidak berseragam). Kasus ini merupakan pelanggaran HAM, karena banyak korban Petrus meninggal akibat eksekusi. Sebagian besar korban Peter ditemukan tewas dengan tangan dan leher diikat dan dibuang ke taman, hutan, dan tempat lain. Mereka menghitung ratusan orang yang menjadi korban Petrusi, sebagian besar meninggal karena ditembak.

Kasus Bulukumba terjadi pada tahun 2003. Ia termotivasi oleh PT. London Sumatera (Lonsum) yang memperluas areal perkebunan, namun upaya ini ditolak oleh penduduk setempat. Polisi menembaki warga Bulukumba. Anggota Satuan Mobil Polres Bulukumba Sulsel dilaporkan menembak mati seorang warga Desa Bonta Birang, Kecamatan Kajang, Bulukumba pada Senin (3/10/2011) sekitar pukul 17.00 WITA. Warga Ansu yang tertembak ditembak dari belakang. Masyarakat Kajang sudah lama menuntut agar PT London mengembalikan tanahnya.

Apa Saja Faktor Penyebab Pelanggaran Hak Asasi Manusia?

Pembantaian ini merupakan pembunuhan dan penyiksaan terhadap orang-orang yang dituduh berafiliasi komunis di Indonesia ketika Partai Komunis Indonesia (CPI) menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia saat itu, dengan jutaan anggota. Militer mulai melakukan operasi, menangkap komunis, menyiksa dan membunuh mereka. Kebanyakan orang percaya bahwa Suharto dicurigai sebagai dalang pembantaian tahun 1965. Menurut data yang tersedia, sekitar satu setengah juta komunis tewas atau hilang. Jelas, ini jelas melanggar hak asasi manusia.

Kasus ini masuk dalam daftar pelanggaran HAM di Indonesia, yakni pembantaian yang dilakukan oleh militer (anggota TNI) dengan menembak warga sipil di pemakaman Santa Cruz, Dili, Timor-Leste, pada 12 November 1991. warga sipil yang hadir di pemakaman rekannya di Pemakaman Santa Cruz. Cruz ditembak mati oleh militer Indonesia. Puluhan pengunjuk rasa, sebagian besar mahasiswa dan warga sipil, terluka, bahkan ada yang tewas. Banyak yang menilai bahwa peristiwa ini murni pembunuhan yang dilakukan oleh anggota TNI yang melakukan agresi di Dili dan merupakan aksi untuk menyatakan keinginan Timor Timur untuk keluar dari Indonesia dan mendirikan negara sendiri.

Pembunuhan ini terjadi pada tahun 1998. Pada masa itu, santet merupakan hal yang lumrah di desa-desa Banyuwangi. Penduduk setempat yang jumlahnya banyak melakukan kerusuhan berupa penangkapan dan pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh santet. Sejumlah orang yang dituduh santet dibunuh tanpa pengadilan, ada yang dibacok sampai mati, dipenggal bahkan dibakar hidup-hidup. Tentu saja, polisi bersama anggota TNI dan ABRI tidak tinggal diam, mereka menyelamatkan orang-orang yang dituduh santet yang beruntung selamat dari amukan penduduk.

Peristiwa ini disebabkan oleh pendukung Megawati Sukarno Putri yang membobol dan mengambil alih kantor DPP PDI di Jakarta Pusat pada 27 Juli 1996. Massa mulai melempari batu dan berkelahi, dan polisi serta anggota ABRI datang dengan kendaraan lapis baja mereka. Kerusuhan menyebar ke jalan-jalan, massa mulai merusak bangunan dan rambu-rambu jalan. Diberitakan lima orang tewas, puluhan orang (sipil dan aparat keamanan) luka-luka, ada yang ditahan. Menurut Komnas HAM, kejadian ini membuktikan telah terjadi pelanggaran HAM.

Penyelesaian Kasus Pelanggaran Ham, Komnas Ham Tunggu Aksi Pemerintah

Kasus penganiayaan dan pembunuhan wartawan Uddin (Fuad Muhammad Syafruddin) terjadi di Yogyakarta pada 16 Agustus 1996. Sebelum kejadian ini, Oudin sering menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer. Ia menjadi jurnalis Bernas sejak 1986. Udin adalah jurnalis harian Bernas yang diyakini telah diculik, diperkosa oleh penyerang tak dikenal dan akhirnya ditemukan tewas.

Tragedi Semanga merupakan peristiwa protes masyarakat terhadap pelaksanaan dan agenda Sidang Istimewa MPR yang mengakibatkan kematian warga sipil, peristiwa pertama yang dikenal dengan Tragedi Semanga I terjadi pada tanggal 13 November 1998. Dalam kasus ini, 5 korban tewas yakni Tedi Mahdani K., Bernadus Irmavan, Muzamil Joka P., Abdullah dan Sigit Prosetio. Kemudian peristiwa kedua yang dikenal dengan Tragedi Semangi II terjadi pada tanggal 24 September 1999 yang mengakibatkan meninggalnya 5 orang yaitu Salim Ternate, Danny Yulian, Yap Yun Hap, Zainal dan Fadli.

Itu terjadi pada 1976-1989 dan merenggut ribuan nyawa. Peristiwa pasca pengumuman Gerakan Aceh Merdeka (GAM) oleh Hassan Di Tiro, Aceh selalu menjadi medan perang dengan intensitas kekerasan yang tinggi.

Peristiwa penembakan mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998 saat demonstrasi menuntut lengsernya Soeharto. Dalam prosesnya, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas, antara lain: Hendravan See (1975–1998), Heri Hertanta (1977–1998), Elang Mulia Lesmana (1978–1998), dan Hafidin Royan (1976–1998). Mereka ditembak mati di kampus, dengan peluru tajam mengenai area vital seperti kepala, tenggorokan, dan dada.

Contoh Kasus Pelanggaran Ham Di Indonesia

Kejadian ini terjadi di Abepura, Papua pada tahun 2003. Ini mengikuti penyisiran tanpa pandang bulu dari penjahat yang diduga menyerang markas polisi Abepur. Komnas HAM menyimpulkan adanya pelanggaran HAM dalam peristiwa Abepur.

Itulah beberapa kasus terkait pelanggaran HAM di Indonesia yang terjadi pada zaman dahulu. Semoga kedepannya Indonesia bisa lebih damai dan tenteram serta terhindar dari pelanggaran-pelanggaran yang terjadi di masyarakat, khususnya pelanggaran HAM. Peristiwa yang terjadi di masa lalu harus menjadi contoh bagi generasi modern agar tidak terulang kembali dan mencegah pelanggaran hak asasi manusia. Untuk itu kita juga perlu memahami pengertian, definisi atau pengertian HAM : 21 Definisi HAM Menurut Para Ahli (Full) Jakarta – HAM (HAM) adalah hak dasar yang dimiliki manusia sejak lahir, berlaku di sepanjang waktu. , dimanapun dan kepada siapapun. Segala sesuatu yang berkaitan dengan hak asasi manusia harus bersifat universal dan menjadi milik semua orang, tanpa mengenal perbedaan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di Internet, hak asasi manusia atau hak asasi manusia adalah hak-hak yang dilindungi secara internasional (yaitu dalam Deklarasi Hak Asasi Manusia PBB), seperti hak untuk hidup, hak kemerdekaan, hak milik, hak menyatakan pendapat.

Hak asasi manusia merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia karena berada dalam kandungan dan bersifat universal. Oleh karena itu, hak asasi manusia tidak mengenal usia, jenis kelamin, negara,

Ramai Pelanggaran, Indonesia Terpilih Jadi Anggota Dewan Ham

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like